Sistem perbankan memiliki peran penting dalam menjaga kestabilan ekonomi suatu negara. Di Malaysia, bank tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan dana, tetapi juga menjadi bagian dari sistem keuangan yang mendukung kegiatan bisnis, investasi, dan kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan regulasi yang mampu menjaga ketahanan perbankan ketika menghadapi tekanan ekonomi.
Salah satu kebijakan yang diterapkan untuk mendukung tujuan tersebut adalah Domestic Systemically Important Banks (D-SIBs). Kebijakan ini berkaitan dengan identifikasi bank yang memiliki pengaruh besar terhadap sistem keuangan domestik. Apabila bank yang tergolong penting secara sistemik mengalami gangguan serius, dampaknya berpotensi meluas ke sektor keuangan dan perekonomian secara keseluruhan.
Untuk mengurangi risiko tersebut, Malaysia menerapkan persyaratan tambahan berupa Higher Loss Absorbency (HLA), yaitu kewajiban memiliki modal tambahan agar bank lebih mampu menyerap kerugian ketika menghadapi kondisi yang tidak menguntungkan.
Sejarah Penerapan Kebijakan D-SIBs di Malaysia
Penguatan regulasi perbankan Malaysia berkaitan erat dengan perkembangan standar pengawasan keuangan internasional. Salah satu acuan pentingnya adalah Basel III, seperangkat standar yang dirancang untuk memperkuat ketahanan bank melalui pengelolaan modal, risiko, dan likuiditas yang lebih baik.
Dalam perkembangannya, perhatian regulator tidak hanya tertuju pada jumlah modal yang dimiliki bank, tetapi juga pada dampak yang mungkin timbul apabila sebuah lembaga keuangan mengalami kegagalan. Bank dengan skala usaha besar dan keterkaitan luas dengan sistem keuangan dapat menimbulkan risiko yang lebih besar dibandingkan lembaga dengan pengaruh terbatas.
Karena itu, pendekatan pengawasan terhadap bank yang penting secara sistemik menjadi bagian dari upaya memperkuat stabilitas keuangan.
Penerbitan Kerangka D-SIBs pada 2020
Tonggak penting kebijakan Malaysia Systemically Important Banks Capital Buffer terjadi pada 5 Februari 2020. Pada tanggal tersebut, Bank Negara Malaysia (BNM) menerbitkan dokumen kebijakan Domestic Systemically Important Banks Framework.
Kerangka ini menetapkan metode untuk mengidentifikasi bank yang memiliki kepentingan sistemik di dalam negeri, persyaratan tambahan modal, serta kewajiban pelaporan bagi lembaga keuangan terkait.
BNM juga menetapkan tiga kelompok perbankan domestik sebagai D-SIBs pada tahap awal penerapan kebijakan tersebut. Persyaratan tambahan modalnya mulai berlaku pada 31 Januari 2021. Langkah ini menjadi bagian dari penguatan pengawasan terhadap lembaga perbankan yang berpotensi memberikan dampak besar terhadap perekonomian Malaysia.
Penerapan Tambahan Modal Mulai 2021
Sejak 31 Januari 2021, bank yang telah ditetapkan sebagai D-SIBs diwajibkan memenuhi ketentuan tambahan modal sesuai dengan tingkat kepentingan sistemiknya.
Tambahan modal tersebut dihitung berdasarkan aset tertimbang menurut risiko atau risk-weighted assets (RWA). Dengan pendekatan ini, kebutuhan modal tidak hanya ditentukan oleh besarnya aset, tetapi juga mempertimbangkan tingkat risiko yang melekat pada aset tersebut.
Penerapan persyaratan HLA bertujuan meningkatkan kemampuan bank dalam menyerap kerugian tanpa langsung menimbulkan gangguan yang lebih luas terhadap sistem keuangan. Kebijakan ini juga memperkuat prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan kegiatan perbankan.
Perkembangan Capital Buffer dan Penilaian Bank di Malaysia
Capital buffer merupakan modal tambahan yang membantu bank menghadapi potensi kerugian. Keberadaan modal tersebut penting karena kegiatan perbankan memiliki berbagai risiko, mulai dari kredit bermasalah hingga perubahan kondisi pasar.
Dalam kerangka D-SIBs, persyaratan HLA melengkapi ketentuan modal yang berlaku bagi lembaga perbankan. Dengan demikian, bank yang memiliki dampak sistemik lebih besar harus menyediakan tambahan modal sesuai ketentuan regulator.
Penerapan persyaratan ini bukan berarti bank yang masuk dalam daftar D-SIBs sedang mengalami masalah keuangan. Sebaliknya, penetapan tersebut menunjukkan bahwa lembaga terkait memiliki peran penting sehingga memerlukan pengamanan tambahan.
Penilaian Berkala oleh Bank Negara Malaysia
BNM melakukan penilaian untuk menentukan lembaga perbankan yang tergolong penting secara sistemik. Penilaian ini mempertimbangkan pengaruh suatu bank terhadap sistem keuangan domestik dan potensi dampak yang dapat muncul apabila operasionalnya mengalami gangguan.
Evaluasi berkala diperlukan karena kondisi industri perbankan dapat berubah seiring pertumbuhan aset, perkembangan kegiatan usaha, serta meningkatnya keterkaitan antarlembaga keuangan.
Melalui pendekatan tersebut, regulator dapat menyesuaikan pengawasan dengan tingkat risiko yang dihadapi sistem perbankan Malaysia.
Daftar Bank yang Termasuk D-SIBs pada 2026
Berdasarkan penilaian tahunan BNM yang diumumkan pada 16 Oktober 2026, daftar kelompok perbankan yang ditetapkan sebagai D-SIBs beserta persyaratan HLA-nya tetap tidak berubah dibandingkan penilaian sebelumnya. Penilaian tersebut menggunakan data hingga akhir 2025.
Berikut kelompok perbankan dan persyaratan tambahan modal yang diumumkan BNM:
- Malayan Banking Berhad (Maybank): persyaratan HLA sebesar 1,0% dari aset tertimbang menurut risiko.
- CIMB Group Holdings Berhad: persyaratan HLA sebesar 1,0% dari aset tertimbang menurut risiko.
- Public Bank Berhad: persyaratan HLA sebesar 0,5% dari aset tertimbang menurut risiko.
Angka tersebut merupakan persyaratan tambahan HLA, bukan keseluruhan rasio kecukupan modal yang harus dimiliki masing-masing bank. Ketentuan modal lain tetap berlaku sesuai kerangka kecukupan modal perbankan yang ditetapkan regulator.
Dampak Kebijakan Capital Buffer terhadap Stabilitas Ekonomi
Salah satu manfaat utama kebijakan D-SIBs adalah meningkatkan kemampuan bank untuk menghadapi tekanan keuangan. Modal tambahan memberikan ruang yang lebih besar bagi bank untuk menyerap kerugian dan menjaga kelangsungan kegiatan operasionalnya.
Ketahanan tersebut penting bagi lembaga yang memiliki peran besar dalam penyaluran kredit, transaksi pembayaran, dan berbagai layanan keuangan lainnya.
Menjaga Kepercayaan Masyarakat
Stabilitas perbankan juga berkaitan dengan kepercayaan masyarakat. Nasabah membutuhkan sistem keuangan yang dapat menjalankan fungsi penyimpanan dana dan pembayaran secara andal.
Meskipun persyaratan modal tidak dapat menghilangkan seluruh risiko, kebijakan yang tepat dapat membantu mengurangi kemungkinan terjadinya gangguan serius. Pengawasan yang konsisten juga memberikan landasan bagi pengelolaan risiko yang lebih terukur.
Mendukung Pertumbuhan Ekonomi Jangka Panjang
Bank yang memiliki modal memadai cenderung mempunyai kapasitas lebih baik untuk menghadapi perubahan kondisi ekonomi. Hal ini penting karena sektor perbankan berperan dalam mendukung pembiayaan usaha, aktivitas perdagangan, dan konsumsi masyarakat.
Dengan menggabungkan persyaratan modal, pengawasan berkala, serta manajemen risiko yang baik, Malaysia berupaya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan industri perbankan dan stabilitas keuangan.
Kesimpulan
Sejarah Malaysia Systemically Important Banks Capital Buffer menunjukkan perkembangan pendekatan pengawasan perbankan yang semakin memperhatikan dampak sistemik suatu lembaga keuangan. Penerbitan kerangka D-SIBs pada Februari 2020 dan pemberlakuan persyaratan HLA pada Januari 2021 menjadi bagian penting dari upaya memperkuat ketahanan perbankan Malaysia.
Penilaian tahunan yang dilakukan BNM membantu memastikan bahwa persyaratan tambahan modal tetap relevan dengan kondisi sistem keuangan. Hingga pengumuman 16 Oktober 2026, Maybank, CIMB Group Holdings Berhad, dan Public Bank Berhad tetap tercantum sebagai kelompok perbankan D-SIBs dengan persyaratan HLA masing-masing sebesar 1,0%, 1,0%, dan 0,5%.
Secara keseluruhan, kebijakan ini menjadi salah satu instrumen untuk meningkatkan kemampuan bank menyerap kerugian, mengurangi risiko gangguan sistemik, dan menjaga stabilitas ekonomi Malaysia dalam jangka panjang.
